Akhir-akhir ini, permasalahan sepakbola nasional menjadi sebuah isu yang sangat hangat untuk diperbincangkan. Dimulai dari dualisme kompetisi tertinggi, kekalahan telak 10-0 dari Bahrain hingga kegagalan merebut gelar juara pada pergelaran Hassanal Bolkiah Trophy 2012 dari Brunei Darussalam. Hal yang sangat ironis ketika sebuah negara besar dengan 250 juta penduduk kalah 10-0 dari negara dengan penduduk 1,2 juta, juga kalah 2-0 dari negara dengan jumlah penduduk 383.000 jiwa. Dualisme kompetisi merupakan muara dari semua permasalahan persepakbolaan nasional saat ini. Kedua kubu sama-sama tidak bisa legawa untuk menerima masukan dari pihak lain, baik dari kubu lama maupun kubu baru. Keduanya sama-sama kolot.
Sebagai seorang warga negara yang mencintai timnasnya, wajar apabila saya dan 200 juta penduduk lain kecewa dengan beragam hasil buruk yang diraih oleh Timnas Indonesia. Sebagai pencinta sepakbola, saya tahu benar bahwa kualitas skill pemain-pemain Indonesia tidaklah buruk, pemain-pemain Indonesia memiliki kemampuan untuk bersaing di level Asia bahkan mungkin dunia. Indonesia memiliki banyak pemain berbakat. Sebut saja Boaz Solossa, Okto Maniani, Syamsir Alam, Yeriko Christiantoko, Andik Vermansyah hingga Stefano Lilipaly yang saat ini bermain untuk FC Utrech. Pemain-pemain tersebut memiliki kemampuan yang cukup untuk membawa Timnas Indonesia Berjaya di level asia hingga dunia.
Beberapa waktu yang lalu, LA Galaxy melakukan kunjungan ke Indonesia dengan agenda melakukan sebuah pertandingan ujicoba melawan Timnas Indonesia Selection. Hasilnya tidaklah buruk, Galaxy hanya menang 1-0 dari Timnas Indonesia Selection yang baru dikumpulkan beberapa minggu sebelumnya. Hal yang bagi saya menarik pada pertandingan tersebut adalah tackling keras yang dilakukan oleh David Beckham kepada Andik Vermansyah. Tackling tersebut sangat berbahaya, layak untuk mendapatkan ganjaran berupa kartu merah. Akan tetapi wasit memiliki pemikiran lain karena pemain yang melakukan pelanggaran adalah David Beckham : tokoh utama yang paling dinantikan publik. Perlu diingat kembali bahwa Beckham adalah seorang pemain profesional yang selalu ingin memenangkan pertandingan, tidak peduli apakah pertandingan tersebut merupakan partai reguler di liga maupun sekedar pertandingan tour. Intinya, Beckham serius ketika melakukan tackling keras kepada Andik. Secara kasar pun kita tahu bahwa Beckham tidak mungkin melakukan tindakan itu jika lawan tidak melakukan pergerakan yang luar biasa berbahaya, ini artinya Andik telah mencuri perhatian Beckham melalui pergerakan-pergerakannya yang luar biasa berbahaya sehingga memaksanya melakukan sebuah tackling keras.
Semua orang di dunia tahu bahwa Beckham adalah pemain kelas dunia yang pernah memenangi berbagai gelar bergengsi dalam sepakbola, meskipun usianya tidak lagi muda Beckham tetaplah seorang pemain kelas dunia. Hal ini membuktikan opini saya bahwa pemain Indonesia pun mampu untuk bersaing dengan para pemain kelas dunia. Artinya, Timnas Indonesia layak untuk bersaing di pentas dunia. Hal yang menjadi masalah di negeri ini adalah kurangnya dukungan dari berbagai pihak untuk mengembangkan sepakbola secara serius sebagai sebuah industri yang bisa memberikan kebanggaan kepada seluruh pencinta sepakbola nasional di Tanah Air.
Mayoritas rakyat Indonesia merupakan penggila sepakbola, kita bisa melihatnya dari layar teve ketika Timnas Indonesia bertanding di Gelora Bung Karno bahkan hampir setiap pertandingan Liga Indonesia pun stadion selalu penuh dengan penonton. Sepakbola hampir menjadi denyut nadi setiap Warga Negara Indonesia. Sudah sepantasnya orang-orang yang berada di PSSI maupun pihak-pihak yang berkepentingan dalam sepakbola nasional untuk bersatu, saling bekerjasama untuk mewujudkan sepakbola Indonesia yang lebih baik ke depan, bukan saatnya kita masih memaksakan ideologi kita dalam sepakbola. Come on, rakyat Indonesia sudah terlalu lama menunggu prestasi dari Timnas Indonesia yang tak kunjung membanggakan. Piala AFC maupun Sea Games seharusnya sudah bukan lagi menjadi target untuk dimenangkan. Indonesia seharusnya sudah berada selevel atau bahkan lebih tinggi daripada Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi, China maupun Korea Utara. Boaz Solossa maupun Andik Vermansyah seharusnya sudah bermain di Bundesliga untuk memperebutkan gelar pemain asing terbaik bersaing dengan Shinji Kagawa. Wake up guys, wake up!
Saya lebih dari optimis Indonesia mampu menembus Piala Dunia, saya yakin suatu saat Timnas Indonesia bisa menjadi timnas yang disegani di level dunia. Momentum tersebut harus mulai dibangun sejak sekarang, Indonesia harus memiliki fondasi yang kuat untuk mengembangkan sepakbola, semua orang harus saling berrangkulan untuk mengembangkan persepakbolaan Indonesia menjadi lebih baik. Sebagai penutup, saya ingin mengutip lirik lagu dari Iwan Fals
Mentari pagi sudah membumbung tinggi
Bangunlah putra-putri Ibu Pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi
Setelah itu kita berjanji
Tadi pagi, esok hari atau lusa nanti
Garuda bukan burung perkutut
Sang Saka bukan sandang pembalut
Dan coba kau dengarkan Pancasila itu
Bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisi harapan
Yang hanya berisi khayalan…
Ayo bangun Indonesia, sudah saatnya Garuda terbang tinggi!
No comments:
Post a Comment