Akhir-akhir
ini, berita mengenai Pilkada DKI Jakarta merupakan salah satu berita yang
paling hot untuk diperbincangkan.
Dimulai dari terjungkalnya calon unggulan pertama hingga keterlibatan para
Brahmana dalam ranah pilkada. Pilkada DKI akhirnya harus berjalan dalam dua
putaran karena tidak ada calon yang mengumpulkan suara lebih dari 50% + 1.
Beragam kegiatan- kegiatan politik pun mulai dilakukan oleh kedua pasang jagoan
yang akan bertarung pada putaran kedua. Penghimpunan kekuatan atau koalisi
sudah dilakukan oleh kedua belah pihak. Calon pertama, sang incumbent nampak jauh lebih gagah untuk
bertarung pada second leg Pilkada
DKI. Bang Foke mantap melangkah dengan disertai dukungan dari partai-partai
raksasa seperti Golkar, Demokrat, PKS, PPP dan partai-partai lain. Selain itu,
pasangan ini mendapatkan dukungan special dari Majelis Ulama Indonesia. Luar
biasa. Sementara itu, pasangan Jokowi-Ahok terlihat kurang gagah untuk
mengarungi putaran kedua. Ibarat bursa transfer, pasangan ini tidak jor-joran
untuk memperkuad skuat yang dimiliki. Tidak ada kejutan yang spektakuler dalam
penambahan kekuatan dari pasangan ini. Penambahan kekuatan yang paling terasa
mungkin adalah dukungan yang diberikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia
periode 2004-2009, Jusuf Kalla. Dengan demikian, apakah kubu Foke-Nara sudah
menang atas Jokowi-Ahok? Tunggu dulu, berikut ini analisanya.
Pasangan
Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli menjadi pasangan yang berada pada barisan kedua pada
putaran kedua jika melihat hasil pada putaran pertama Pilkada DKI. Kekalahan
mengejutkan yang dialami membuat mereka mempersiapkan diri menghadapi putaran kedua
dengan sangat matang. Pasangan ini sangat aktif untuk melakukan lobi-lobi
politik kepada petinggi sejumlah partai untuk memberikan dukungan kepada
mereka. Hasilnya pun sukses, mereka memperoleh dukungan yang luar biasa dari
berbagai pihak. Selain dukungan dari partai politik, pasangan ini pun
mendapatkan dukungan dari figur berpengaruh seperti Rhoma Irama, bahkan Majelis
Ulama Indonesia (MUI) pun secara tersirat mendukung pasangan ini. Sang lawan
yang meraih pole position pada
putaran pertama, Joko Widodo sampai menyatakan bahwa pada putaran kedua ia akan
melawan sekumpulan gajah dengan kekuatan yang luar biasa besar. Secara kasat
mata dilihat dari peta politik, pasangan ini lebih diunggulkan para pengamat
untuk memenangkan Pilkada DKI.
Pasangan
selanjutnya adalah pasangan Joko Widodo dan Basuki Thahja Purnama. Pasangan ini
secara mengejutkan berhasil menjungkirbalikkan prediksi yang mengatakan bahwa
pasangan Foke-Nara akan menang dalam satu putaran. Pasangan yang identik dengan
kemeja kotak-kotak ini secara luar biasa mampu meraih pole position untuk memenangkan Pilkada DKI. Memasuki putaran
kedua, tidak terlihat manuver-manuver mengejutkan yang dilakukan oleh pasangan
ini, pasangan ini relative adem-ayem memasuki
putaran kedua. Pasangan ini pun mendapatkan serangan bertubi-tubi dari berbagai
pihak. Serangan pertama dan paling tidak bermutu adalah serangan bermotif SARA
yang dialamatkan kepada Cagub maupun Cawabup. Beberapa forum di internet
menyatakan bahwa Jokowi adalah anggota dari sebuah perkumpulan yang berkiblat
pada Satanisme Yahudi. Serangan ini sungguh sulit diterima akal sehat karena
Joko Widodo adalah orang Solo tulen dan seorang muslim yang taat. Beberapa
sumber bahkan menyatakan bahwa pada bulan Ramadhan lalu, Pak Walikota Solo
berkeliling masjid setiap hari untuk menjadi imam shalat tarawih di kota Solo.
Serangan selanjutnya dialamatkan kepada sang Cawabup yang notabene seorang
non-muslim dan seorang dari etnis Tionghoa. Serangan bertubi-tubi harus
diterima oleh Pak Bupati menjelang putaran kedua. Serangan yang paling menyita
perhatian publik adalah ceramah yang disampaikan oleh Sang Raja Dangdut yang
menyuruh umat untuk memilih pemimpin muslim dalam Pilkada DKI. Serangan lain
yang tidak kalah mengejutkan adalah anjuran MUI. Pasangan ini sungguh luar
biasa, mereka menyikapi serangan-serangan yang mereka terima dengan luar biasa
elegan. Serangan Bang Haji justru dibalas mereka dengan mendengarkan lagu-lagu
karya Rhoma Irama yang menjelaskan mengenai keberagaman di Nusantara. Sebuah
pembalasan yang luar biasa elegan dan berkelas. Dengan slogan “Jakarta Baru”,
pasangan ini justru mendapatkan dukungan yang tidak terduga dari para rakyat
yang mendukung tanpa dibayar sepeser pun. Seorang ahli game bahkan membuat sebuah game
bernama “Selamatkan Jakarta” dengan Jokowi dan Ahok sebagai tokoh
protagonist. Ketua PMI yang juga Mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla pun
memberikan dukungannya dengan sukarela untuk pasangan ini. Kalla mengingatkan
warga DKI pada sejarah Jakarta bahwa dulu Jakarta pun dipimpin oleh orang-orang
non-muslim dan Jakarta saat itu justru terbilang lebih sukses daripada saat
ini. Serangan-serangan yang dialamatkan kepada pasangan ini justru menjadi
senjata tambahan bagi pasangan ini karena cara mereka dalam menyikapi serangan
sungguh luar biasa. Tenaga yang diarahkan untuk menghancurkan Jokowi-Ahok
justru diolah kemudian diserap menjadi tambahan tenaga yang luar biasa untuk
mengarungi Pilkada DKI putaran kedua. Apa
yang tak bisa menghancurkanku akan membuatku lebih tegar. Demikian yang
dikatakan oleh Friedrich Nietzsche. Saat ini, meskipun tidak ada tambahan
kekuatan dari parpol-parpol besar, pasangan Jokowi-Ahok justru mendapatkan
dukungan yang lebih besar dari kumpulan serangan yang dialamatkan kepada
mereka. Setiap hari, berbagai simpati dari rakyat terus mengalir untuk pasangan
ini, kumpulan rakyat ini layaknya tikus
pithi anata baris. Barisan yang dibentuk oleh tikus pithi.
Pilkada DKI putaran kedua akan berlangsung pada
September mendatang, pasangan Foke-Nara mantap melangkah dengan pasukan gajah
raksasa yang siap untuk menghancurkan lawan. Sementara itu, Jokowi-Ahok
melangkah dengan kesederhanaan dengan barisan tikus pithi. Jayabaya pernah
memberikan ramalan untuk Nusantara sejumlah 8 poin. Dari 8 poin tersebut, 6 ramalan
telah terbukti, ramalan ke-7 Jayabaya adalah tikus pithi anata baris dan saat ini merupakan periode yang
merepresentasikan ramalan tersebut. Rombongan pergerakan dari rakyat Indonesia
adalah pertanda bahwa saat ini merupakan saat ketika Ramalan tersebut mendekati
kenyataan. Apakah ramalan Jayabaya akan terbukti pada Pilkada DKI? Let’s see.
No comments:
Post a Comment