Tuesday, 28 August 2012

Rombongan Gajah vs Barisan TIkus Pithi


Akhir-akhir ini, berita mengenai Pilkada DKI Jakarta merupakan salah satu berita yang paling hot untuk diperbincangkan. Dimulai dari terjungkalnya calon unggulan pertama hingga keterlibatan para Brahmana dalam ranah pilkada. Pilkada DKI akhirnya harus berjalan dalam dua putaran karena tidak ada calon yang mengumpulkan suara lebih dari 50% + 1. Beragam kegiatan- kegiatan politik pun mulai dilakukan oleh kedua pasang jagoan yang akan bertarung pada putaran kedua. Penghimpunan kekuatan atau koalisi sudah dilakukan oleh kedua belah pihak. Calon pertama, sang incumbent nampak jauh lebih gagah untuk bertarung pada second leg Pilkada DKI. Bang Foke mantap melangkah dengan disertai dukungan dari partai-partai raksasa seperti Golkar, Demokrat, PKS, PPP dan partai-partai lain. Selain itu, pasangan ini mendapatkan dukungan special dari Majelis Ulama Indonesia. Luar biasa. Sementara itu, pasangan Jokowi-Ahok terlihat kurang gagah untuk mengarungi putaran kedua. Ibarat bursa transfer, pasangan ini tidak jor-joran untuk memperkuad skuat yang dimiliki. Tidak ada kejutan yang spektakuler dalam penambahan kekuatan dari pasangan ini. Penambahan kekuatan yang paling terasa mungkin adalah dukungan yang diberikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2004-2009, Jusuf Kalla. Dengan demikian, apakah kubu Foke-Nara sudah menang atas Jokowi-Ahok? Tunggu dulu, berikut ini analisanya.
Pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli menjadi pasangan yang berada pada barisan kedua pada putaran kedua jika melihat hasil pada putaran pertama Pilkada DKI. Kekalahan mengejutkan yang dialami membuat mereka mempersiapkan diri menghadapi putaran kedua dengan sangat matang. Pasangan ini sangat aktif untuk melakukan lobi-lobi politik kepada petinggi sejumlah partai untuk memberikan dukungan kepada mereka. Hasilnya pun sukses, mereka memperoleh dukungan yang luar biasa dari berbagai pihak. Selain dukungan dari partai politik, pasangan ini pun mendapatkan dukungan dari figur berpengaruh seperti Rhoma Irama, bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun secara tersirat mendukung pasangan ini. Sang lawan yang meraih pole position pada putaran pertama, Joko Widodo sampai menyatakan bahwa pada putaran kedua ia akan melawan sekumpulan gajah dengan kekuatan yang luar biasa besar. Secara kasat mata dilihat dari peta politik, pasangan ini lebih diunggulkan para pengamat untuk memenangkan Pilkada DKI.
Pasangan selanjutnya adalah pasangan Joko Widodo dan Basuki Thahja Purnama. Pasangan ini secara mengejutkan berhasil menjungkirbalikkan prediksi yang mengatakan bahwa pasangan Foke-Nara akan menang dalam satu putaran. Pasangan yang identik dengan kemeja kotak-kotak ini secara luar biasa mampu meraih pole position untuk memenangkan Pilkada DKI. Memasuki putaran kedua, tidak terlihat manuver-manuver mengejutkan yang dilakukan oleh pasangan ini, pasangan ini relative adem-ayem memasuki putaran kedua. Pasangan ini pun mendapatkan serangan bertubi-tubi dari berbagai pihak. Serangan pertama dan paling tidak bermutu adalah serangan bermotif SARA yang dialamatkan kepada Cagub maupun Cawabup. Beberapa forum di internet menyatakan bahwa Jokowi adalah anggota dari sebuah perkumpulan yang berkiblat pada Satanisme Yahudi. Serangan ini sungguh sulit diterima akal sehat karena Joko Widodo adalah orang Solo tulen dan seorang muslim yang taat. Beberapa sumber bahkan menyatakan bahwa pada bulan Ramadhan lalu, Pak Walikota Solo berkeliling masjid setiap hari untuk menjadi imam shalat tarawih di kota Solo. Serangan selanjutnya dialamatkan kepada sang Cawabup yang notabene seorang non-muslim dan seorang dari etnis Tionghoa. Serangan bertubi-tubi harus diterima oleh Pak Bupati menjelang putaran kedua. Serangan yang paling menyita perhatian publik adalah ceramah yang disampaikan oleh Sang Raja Dangdut yang menyuruh umat untuk memilih pemimpin muslim dalam Pilkada DKI. Serangan lain yang tidak kalah mengejutkan adalah anjuran MUI. Pasangan ini sungguh luar biasa, mereka menyikapi serangan-serangan yang mereka terima dengan luar biasa elegan. Serangan Bang Haji justru dibalas mereka dengan mendengarkan lagu-lagu karya Rhoma Irama yang menjelaskan mengenai keberagaman di Nusantara. Sebuah pembalasan yang luar biasa elegan dan berkelas. Dengan slogan “Jakarta Baru”, pasangan ini justru mendapatkan dukungan yang tidak terduga dari para rakyat yang mendukung tanpa dibayar sepeser pun. Seorang ahli game bahkan membuat sebuah game bernama “Selamatkan Jakarta” dengan Jokowi dan Ahok sebagai tokoh protagonist. Ketua PMI yang juga Mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla pun memberikan dukungannya dengan sukarela untuk pasangan ini. Kalla mengingatkan warga DKI pada sejarah Jakarta bahwa dulu Jakarta pun dipimpin oleh orang-orang non-muslim dan Jakarta saat itu justru terbilang lebih sukses daripada saat ini. Serangan-serangan yang dialamatkan kepada pasangan ini justru menjadi senjata tambahan bagi pasangan ini karena cara mereka dalam menyikapi serangan sungguh luar biasa. Tenaga yang diarahkan untuk menghancurkan Jokowi-Ahok justru diolah kemudian diserap menjadi tambahan tenaga yang luar biasa untuk mengarungi Pilkada DKI putaran kedua. Apa yang tak bisa menghancurkanku akan membuatku lebih tegar. Demikian yang dikatakan oleh Friedrich Nietzsche. Saat ini, meskipun tidak ada tambahan kekuatan dari parpol-parpol besar, pasangan Jokowi-Ahok justru mendapatkan dukungan yang lebih besar dari kumpulan serangan yang dialamatkan kepada mereka. Setiap hari, berbagai simpati dari rakyat terus mengalir untuk pasangan ini, kumpulan rakyat ini layaknya tikus pithi anata baris. Barisan yang dibentuk oleh tikus pithi.
Pilkada DKI putaran kedua akan berlangsung pada September mendatang, pasangan Foke-Nara mantap melangkah dengan pasukan gajah raksasa yang siap untuk menghancurkan lawan. Sementara itu, Jokowi-Ahok melangkah dengan kesederhanaan dengan barisan tikus pithi. Jayabaya pernah memberikan ramalan untuk Nusantara sejumlah 8 poin. Dari 8 poin tersebut, 6 ramalan telah terbukti, ramalan ke-7 Jayabaya adalah tikus pithi anata baris dan saat ini merupakan periode yang merepresentasikan ramalan tersebut. Rombongan pergerakan dari rakyat Indonesia adalah pertanda bahwa saat ini merupakan saat ketika Ramalan tersebut mendekati kenyataan. Apakah ramalan Jayabaya akan terbukti pada Pilkada DKI? Let’s see.

No comments:

Post a Comment