Monday, 11 June 2012

Sri Krishna dari Skandinavia



EURO 2012 telah dimulai, Belanda yang menjadi salah satu tim favorit untuk menjuarai turnamen harus menerima pil pahit pada laga perdana ketika dipecundangi oleh Denmark dengan skor 1-0. Hasil ini merupakan kejutan terbesar pada pertandingan pembuka Piala Henry Delauney edisi ke-14. Sepakan terukur dari Michael Krohn-Dehli pada menit ke-24 memastikan ‘Tim Dinamit’ unggul satu gol atas ‘De Oranje’.

Secara keseluruhan, Belanda berhasil menguasai permainan, terlihat dari total penguasaan bola dan banyaknya serangan yang dilancarkan oleh Wesley Sneijder dan kawan-kawan, hanya saja Belanda gagal mengonversikan sejumlah peluang yang dimiliki menjadi gol. Hasil ini mengingatkan pencinta sepakbola pada perhelatan EURO tahun 2008 ketika Belanda juga mengalami kekalahan dari lawan yang secara kasat mata mampu mereka taklukkan. Saat itu, Belanda kalah oleh kecerdikan strategi Guus Hiddink (yang notabene orang Belanda) dan kali ini Belanda kembali takluk oleh kecerdikan pelatih senior bernama Morten Olsen.

Analogi Bharatayudha
Ketika melihat pertandingan apa pun, seringkali saya menganalogikannya dengan cerita pewayangan khususnya Bharatayudha. Dalam Bharatayudha orang-orang seringkali hanya mengingat-ingat Pandava memenangkan pertarungan melawan Kaurava. Orang-orang lupa bahwa di balik kemenangan Putra Pandu terdapat Sri Krishna yang berperan sebagai Sais Arjuna. Secara harafiah istilah sais seringkali diterjemahkan sebagai kusir. Krishna ketika Perang Bharatayudha pun menjadi kusir bagi Pandava, khususnya Arjuna. Istilah kusir seringkali hanya diidentiikan dengan orang yang mengendarai sebuah kendaraan, atau gampangannya adalah sopir kereta kencana. Sais adalah orang yang dapat mengendalikan jalannya kereta kencana, dia adalah orang yang menentukan kemana arah kereta yang dibawanya. Krishna sebagai sais dari Arjuna tidak hanya mengendalikan kereta kencana Arjuna, Krishna pula lah yang mengendalikan ‘kencana’ Pandava dalam pertempuran. Ingat bahwa jika bukan karena Krishna maka Bima tidak akan memenangi ‘Perang Tanding’ melawan Duryudana, ingatlah juga bagaimana Krishna berhasil membangkitkan keberanian Arjuna sebagai seorang ksatria ketika ketakutan saat melihat para gurunya yang akan menjadi lawannya.

Sri Krishna dari Skandinavia
Begawan Vyasa dalam Bhagavad Gita menuliskan “Dimana ada akal sehat atau pikiran yang jernih dan keberanian, di sanalah terdapat keberhasilan atau sukses”. Kalimat tersebut merupakan cerminan dari keberhasilan Pandava memenangi Bharatayudha meskipun secara kasat mata Kaurava jauh lebih unggul dari Pandava. Dalam sepakbola modern pun, muncul banyak ‘Sri Krishna’ yang mampu menjadi sais untuk memimpin armadanya menjungkalkan lawan yang menurut perhitungan jauh lebh unggul dibandingkan mereka. King Otto berhasil membawa Yunani menjadi kampiun di Portugal pada 2004, Di Matteo sukses membawa Chelsea meraih trofi Liga Champions meskipun keduanya dipandang remeh oleh banyak pihak. Sri Krishna adalah simbol akal sehat atau pikiran yang jernih untuk menjadi pemandu kehidupan. Morten Olsen menjadi contoh terbaru untuk disimbolkan sebagai ‘Krishna Modern’ berkat kemampuannya membawa Denmark menjungkalkan Belanda sebagai favorit juara. Peranan Olsen untuk menahkodai armada Denmark tak ubahnya Krishna dalam menuntun setiap langkah Pandava dalam Bharatayudha. Kemampuan Olsen untuk membangkitkan kemampuan para pemain Denmark secara prinsip tidak jauh berbeda dengan Krishna dalam membangkitkan semangat Arjuna yang keder ketika berhadapan dengan Bhisma, Durna dll. Strategi bertahan yang diinstruksikan Olsen kepada punggawa Denmark yang dikritik oleh banyak pihak pun mirip dengan instruksi Krishna kepada Bima untuk memukul kemaluan Duryudana dalam perang tanding.

Krishna terlihat agak licik dalam hal ini. Akan tetapi, ia sadar bahwa dalam kasus ini, hal tersebut merupakan satu-satunya pilihan yang dimilikinya untuk dapat menang, Olsen pun sadar bahwa timnya tidak akan mampu mengalahkan Belanda jika tidak menerapkan permainan bertahan yang disiplin. Morten Olsen sadar betul bahwa ‘De Oranje’ memiliki barisan pemain terbaik di penjuru Eropa bahkan dunia. Sikap Olsen sama dengan Krishna yang sadar bahwa Pandava tidak akan memenangi pertempuran di Padang Kurukhsetra jika ia hanya mengandalkan ‘Strategi Normal’. Kaurava memiliki pasukan yang jauh lebih banyak daripada Pandava dengan perlengkapan perang yang juga jauh lebih lengkap. Denmark memiliki kondisi yang mirip dengan Pandava, jumlah pemain yang dibawa ke Polandia-Ukraina memang sama-sama 23 pemain, akan tetapi kualitas serta harga jual para pemain Denmark jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan Belanda. Para pemain Belanda merupakan pemain kunci di hampir seluruh klub top Eropa di liga-liga terbaik dan terbiasa bermain di kompetisi dengan atmosfir yang ketat. Kecerdikan Morten Olsen, Sang Krishna dari Skandinavia merupakan kunci utama kesuksesan Denmark meledakkan Negeri Kincir Angin, kebijakan Olsen mampu untuk membangkitkan semangat juang Nicklas Bendtner dan kawan-kawan hingga lahirlah panah pembunuh dari Krohn-Dehli yang membuat Belanda keluar lapangan dengan kepala tertunduk.

Dalam dunia sepakbola, hasil-hasil yang mengejutkan adalah daya tarik yang membuat olahraga yang konon ditemukan oleh orang Inggris ini menjadi olahraga paling populer di dunia. Tidak ada hal yang mustahil di dunia ini, termasuk dalam sepakbola. Indonesia yang memiliki 230.000.000 penduduk seharusnya banyak belajar dari perhelatan sepakbola dengan 16 kontestan ini, Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menjadi salah satu raksasa dalam sepakbola. Saat ini Indonesia hanya membutuhkan sosok Sri Krishna yang dapat menjadi sais dalam persepakbolaan nasional, semoga Shakuni-Shakuni di Indonesia segera musnah dan negeri terbesar se-Asia Tenggara yang kita cintai ini mampu menjadi negeri yang digdaya dalam segala bidang. Sekian, semoga bermanfaat. Terima kasih. 

No comments:

Post a Comment