EURO 2012
telah dimulai, Belanda yang menjadi salah satu tim favorit untuk menjuarai
turnamen harus menerima pil pahit pada laga perdana ketika dipecundangi oleh
Denmark dengan skor 1-0. Hasil ini merupakan kejutan terbesar pada pertandingan
pembuka Piala Henry Delauney edisi ke-14. Sepakan terukur dari Michael
Krohn-Dehli pada menit ke-24 memastikan ‘Tim Dinamit’ unggul satu gol atas ‘De
Oranje’.
Secara
keseluruhan, Belanda berhasil menguasai permainan, terlihat dari total penguasaan
bola dan banyaknya serangan yang dilancarkan oleh Wesley Sneijder dan
kawan-kawan, hanya saja Belanda gagal mengonversikan sejumlah peluang yang
dimiliki menjadi gol. Hasil ini mengingatkan pencinta sepakbola pada perhelatan
EURO tahun 2008 ketika Belanda juga mengalami kekalahan dari lawan yang secara
kasat mata mampu mereka taklukkan. Saat itu, Belanda kalah oleh kecerdikan
strategi Guus Hiddink (yang notabene orang Belanda) dan kali ini Belanda
kembali takluk oleh kecerdikan pelatih senior bernama Morten Olsen.
Analogi
Bharatayudha
Ketika
melihat pertandingan apa pun, seringkali saya menganalogikannya dengan cerita
pewayangan khususnya Bharatayudha. Dalam Bharatayudha orang-orang seringkali
hanya mengingat-ingat Pandava memenangkan pertarungan melawan Kaurava.
Orang-orang lupa bahwa di balik kemenangan Putra Pandu terdapat Sri Krishna
yang berperan sebagai Sais Arjuna. Secara harafiah istilah sais seringkali
diterjemahkan sebagai kusir. Krishna ketika Perang Bharatayudha pun menjadi
kusir bagi Pandava, khususnya Arjuna. Istilah kusir seringkali hanya
diidentiikan dengan orang yang mengendarai sebuah kendaraan, atau gampangannya adalah
sopir kereta kencana. Sais adalah orang yang dapat mengendalikan jalannya
kereta kencana, dia adalah orang yang menentukan kemana arah kereta yang
dibawanya. Krishna sebagai sais dari Arjuna tidak hanya mengendalikan kereta
kencana Arjuna, Krishna pula lah yang mengendalikan ‘kencana’ Pandava dalam
pertempuran. Ingat bahwa jika bukan karena Krishna maka Bima tidak akan
memenangi ‘Perang Tanding’ melawan Duryudana, ingatlah juga bagaimana Krishna
berhasil membangkitkan keberanian Arjuna sebagai seorang ksatria ketika
ketakutan saat melihat para gurunya yang akan menjadi lawannya.
Sri Krishna
dari Skandinavia
Begawan Vyasa
dalam Bhagavad Gita menuliskan “Dimana ada akal sehat atau pikiran yang jernih
dan keberanian, di sanalah terdapat keberhasilan atau sukses”. Kalimat tersebut
merupakan cerminan dari keberhasilan Pandava memenangi Bharatayudha meskipun
secara kasat mata Kaurava jauh lebih unggul dari Pandava. Dalam sepakbola
modern pun, muncul banyak ‘Sri Krishna’ yang mampu menjadi sais untuk memimpin
armadanya menjungkalkan lawan yang menurut perhitungan jauh lebh unggul
dibandingkan mereka. King Otto berhasil membawa Yunani menjadi kampiun di
Portugal pada 2004, Di Matteo sukses membawa Chelsea meraih trofi Liga
Champions meskipun keduanya dipandang remeh oleh banyak pihak. Sri Krishna
adalah simbol akal sehat atau pikiran yang jernih untuk menjadi pemandu
kehidupan. Morten Olsen menjadi contoh terbaru untuk disimbolkan sebagai
‘Krishna Modern’ berkat kemampuannya membawa Denmark menjungkalkan Belanda
sebagai favorit juara. Peranan Olsen untuk menahkodai armada Denmark tak
ubahnya Krishna dalam menuntun setiap langkah Pandava dalam Bharatayudha.
Kemampuan Olsen untuk membangkitkan kemampuan para pemain Denmark secara
prinsip tidak jauh berbeda dengan Krishna dalam membangkitkan semangat Arjuna
yang keder
ketika berhadapan dengan Bhisma, Durna dll. Strategi bertahan yang
diinstruksikan Olsen kepada punggawa Denmark yang dikritik oleh banyak pihak
pun mirip dengan instruksi Krishna kepada Bima untuk memukul kemaluan Duryudana
dalam perang tanding.
Krishna
terlihat agak licik dalam hal ini. Akan tetapi, ia sadar bahwa dalam kasus ini,
hal tersebut merupakan satu-satunya pilihan yang dimilikinya untuk dapat
menang, Olsen pun sadar bahwa timnya tidak akan mampu mengalahkan Belanda jika
tidak menerapkan permainan bertahan yang disiplin. Morten Olsen sadar betul
bahwa ‘De Oranje’ memiliki barisan pemain terbaik di penjuru Eropa bahkan
dunia. Sikap Olsen sama dengan Krishna yang sadar bahwa Pandava tidak akan
memenangi pertempuran di Padang Kurukhsetra jika ia hanya mengandalkan ‘Strategi
Normal’. Kaurava memiliki pasukan yang jauh lebih banyak daripada Pandava
dengan perlengkapan perang yang juga jauh lebih lengkap. Denmark memiliki
kondisi yang mirip dengan Pandava, jumlah pemain yang dibawa ke
Polandia-Ukraina memang sama-sama 23 pemain, akan tetapi kualitas serta harga
jual para pemain Denmark jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan Belanda. Para
pemain Belanda merupakan pemain kunci di hampir seluruh klub top Eropa di
liga-liga terbaik dan terbiasa bermain di kompetisi dengan atmosfir yang ketat.
Kecerdikan Morten Olsen, Sang Krishna dari Skandinavia merupakan kunci utama
kesuksesan Denmark meledakkan Negeri Kincir Angin, kebijakan Olsen mampu untuk
membangkitkan semangat juang Nicklas Bendtner dan kawan-kawan hingga lahirlah
panah pembunuh dari Krohn-Dehli yang membuat Belanda keluar lapangan dengan
kepala tertunduk.
Dalam dunia
sepakbola, hasil-hasil yang mengejutkan adalah daya tarik yang membuat olahraga
yang konon ditemukan oleh orang Inggris ini menjadi olahraga paling populer di
dunia. Tidak ada hal yang mustahil di dunia ini, termasuk dalam sepakbola. Indonesia
yang memiliki 230.000.000 penduduk seharusnya banyak belajar dari perhelatan
sepakbola dengan 16 kontestan ini, Indonesia memiliki potensi yang besar untuk
menjadi salah satu raksasa dalam sepakbola. Saat ini Indonesia hanya
membutuhkan sosok Sri Krishna yang dapat menjadi sais dalam persepakbolaan
nasional, semoga Shakuni-Shakuni di Indonesia segera musnah dan negeri terbesar
se-Asia Tenggara yang kita cintai ini mampu menjadi negeri yang digdaya dalam
segala bidang. Sekian, semoga bermanfaat. Terima kasih.
No comments:
Post a Comment