Monday, 2 July 2012

Km 0, Representasi Kosong Adalah Isi


Beberapa hari yang lalu, tepatnya Sabtu, 30 Juni 2012 saya berkesempatan untuk memeriahkan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Sebenarnya saya datang hanya karena diajak teman dekat saya. Kebetulan, FKY yang kami kunjungi bertempat di Benteng Vredeburg, berlokasi di Km 0 Kota Yogyakarta. Selama kurang lebih 1 jam kami berkeliling di lokasi pameran FKY. Yup, hanya berkeliling. Kalau orang bilang kami sedang lapar mata, sayang ga’ ada dana, hehehe.
Demikian lah intro dari tulisan saya kali ini. Setelah cukup bosan berada di lokasi pameran, kami duduk-duduk sebentar di halaman depan Benteng Vredeburg. Saat itu saya memperhatikan kondisi jalan di perempatan Km 0 yang super macet penuh dengan manusia. Tanpa adanya FKY pun, perempatan tersebut memang dikenal sebagai salah satu perempatan yang paling ramai di Kota Yogyakarta. Saat itu saya coba merenung-renung melihat kerumunan manusia di Km 0. Entah kenapa, saya teringat dengan film Journey to The West. Dalam film tersebut, seringkali Sang Biksu Suci melantunkan kalimat yang berbunyi
“Kosong adalah isi, isi adalah kosong”
Pada saat itu juga saya tersadar bahwa Km 0 menggambarkan dengan jelas kalimat yang dilantunkan oleh Sang Biksu Suci. Tempat tersebut dikatakan Km 0, angka 0 seringkali dianggap sebagai kosong, bagi pembaca yang sering menonton pertandingan sepakbola pasti paham maksud saya. Kosong adalah isi, sebuah kalimat bijak yang sangat tepat. Dalam kekosongan tersebut, semuanya menyatu! Sujiwo Tejo, seorang seniman edan asal Jawa Timur dalam sebuah kesempatan pernah mengatakan bahwa jika pada zaman Musa telah ditemukan angka 0, maka Tuhan bukan Maha Esa tapi Maha Kosong, lebih tepatnya lagi dia mengatakan bahwa Tuhan itu Maha Suwung. Suwung adalah zero but not empty. Sementara itu, Lao Tze menuliskan
Tiga puluh jari-jari bersatu dalam satu bundaran; tetapi adalah pada ruang kosong untuk poros, pemakaian roda bergantung. Tanah liat dibentuk menjadi wadah, tetapi pada ruang kosongnya lah kegunaannya bergantung. Pintu dan jendela dipotong untuk membentuk sebuah ruangan; tetapi pada ruangan kosonglah kegunaannya bergantung. Maka dari itu, yang memiliki keberadaan berguna sebagai penyesuaian, dan yang tidak memiliki keberadaan adalah yang benar-benar berguna.
Terdapat kesempurnaan pada kekosongan. Sebuah gelas yang terbuat dari emas akan tetap dihargai sebagai gelas emas, ketika dituangkan arak ke dalamnya orang tidak akan lagi menghargai gelas tersebut tetapi lebih sibuk memperdebatkan apakah arak tersebut halal atau haram. Jika kita dihargai hanya karena kita ahli dalam sebuah atau beberapa bidang, kita sepatutnya waspada karena bisa jadi orang lain tidak menghargai melainkan menghargai bidang yang kita kuasai. Dalam kehidupan kita, seringkali kita mendiskreditkan angka 0, sebuah angka yang dianggap buruk, padahal jika kita sadar, pada saat kita berada pada titik 0, pada saat kita kosong tersebut lah kita justru berada pada puncak performa kita, kita berada dalam kasampurnan. Contoh sederhana berikut pernah saya alami.
Sehari-hari saya selalu memiliki uang di dalam dompet saya, dengan uang tersebut saya merasa aman karena jumlah uang tersebut dirasa cukup aman jika saja terjadi kecelakaan-kecelakaan ringan pada saya. Pada suatu ketika saya benar-benar kehabisan uang, saya cukup stress. Mau makan apa? Mau ngapain? Dalam seketika, pertanyaan-pertanyaan tersebut langsung menyeruka ke dalam pikiran logis saya. Akan tetapi pada saat itu juga saya mencoba untuk berpikir positif. Kalau udah biasa punya duit, sekarang ga punya duit harusnya bersyukur dong, ini kan momen yang langka. Demikian pikiran liar saya muncul. Pada saat itu juga, saya justru menjadi sangat pemberani, saya sudah bersikap nothing to lose. Ah ya sudahlah, nikmati saja apa yang bisa dinikmati saat ini. Demikian pikiran saya. Saya benar-benar sudah tidak mengharapkan apapun, mati pun siap kala itu. Pada saat itu, saya merasa adrenalin saya memuncak, saya sudah gendheng, kondisi gendheng itulah yang saya rasa membuat saya mampu untuk menuliskan cerita ini. Kondisi dimana saya sudah tidak peduli dengan diri saya sendiri. Saat itu pula lah saya bisa mengenal Tuhan, saya merasakan keberadaan Tuhan sangat dekat dengan saya. Ketika saya bersujud untuk shalat, sensasi yang saya rasakan sangat luar biasa. Tuhan sangat baik kepada saya, atas kuasa-Nya siang itu saya akhirnya bisa makan karena tetangga saya ulang tahun dan memberikan nasi kotak sebagai perayaan ulang tahun. Alhamdulillah. Tidak hanya sampai disitu, entah kenapa ayah saya pun datang dan meninggalkan sejumlah uang kepada saya walaupun dia tahu bahwa jatah uang bulanan saya sudah diberikan. Subhanallah. Dalam kekosongan, terdapat kesempurnaan. Mungkin karena hal ini, Yusuf Mansur seringkali menantang para jamaah untuk mengosongkan isi dompetnya untuk disedekahkan. Dalam kekosongan itu, Tuhan akan mengisinya dengan kebaikan selama kita siap menerimanya. Dalam kekosongan itu, jika kita sadar, kita sedang berada sangat dekat dengan Sang Maha Pemberi yang akan mencukupkan segala sesuatu bagi kita. Jika pembaca memiliki waktu luang, pembaca dapat membaca buku Autobiography of A Yogi karya Paramhansa Yogananda. Dalam buku tersebut, penulis mengisahkan kisah hidupnya ketika bepergian ke luar kota dengan uang saku yang sangat kurang dan tiket kereta untuk sekali keberangkatan saja dan keyakinannya pada Tuhan lah yang membawanya pulang dengan selamat bahkan membawa beberapa uang.
Mungkin cukup sekian tulisan yang merupakan buah pemikiran saya. Semoga kita selalu memiliki semangat nothing to lose dan semoga kita selalu membersihkan diri agar selalu berada dalam kekosongan sehingga Tuhan akan mengisi kekososngan tersebut dengan kebaikan. Demikian tulisan ini saya buat, semoga bermanfaat.

No comments:

Post a Comment