Beberapa hari yang lalu, tepatnya Sabtu, 30 Juni 2012 saya
berkesempatan untuk memeriahkan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Sebenarnya
saya datang hanya karena diajak teman dekat saya. Kebetulan, FKY yang kami
kunjungi bertempat di Benteng Vredeburg, berlokasi di Km 0 Kota Yogyakarta.
Selama kurang lebih 1 jam kami berkeliling di lokasi pameran FKY. Yup, hanya
berkeliling. Kalau orang bilang kami sedang lapar mata, sayang ga’ ada dana, hehehe.
Demikian lah intro dari tulisan saya kali ini. Setelah cukup bosan
berada di lokasi pameran, kami duduk-duduk sebentar di halaman depan Benteng
Vredeburg. Saat itu saya memperhatikan kondisi jalan di perempatan Km 0 yang
super macet penuh dengan manusia. Tanpa adanya FKY pun, perempatan tersebut
memang dikenal sebagai salah satu perempatan yang paling ramai di Kota
Yogyakarta. Saat itu saya coba merenung-renung melihat kerumunan manusia di Km
0. Entah kenapa, saya teringat dengan film Journey to The West. Dalam film
tersebut, seringkali Sang Biksu Suci melantunkan kalimat yang berbunyi
“Kosong adalah isi, isi adalah kosong”
Pada saat itu juga saya tersadar bahwa Km 0 menggambarkan
dengan jelas kalimat yang dilantunkan oleh Sang Biksu Suci. Tempat tersebut
dikatakan Km 0, angka 0 seringkali dianggap sebagai kosong, bagi pembaca yang
sering menonton pertandingan sepakbola pasti paham maksud saya. Kosong adalah
isi, sebuah kalimat bijak yang sangat tepat. Dalam kekosongan tersebut,
semuanya menyatu! Sujiwo Tejo, seorang seniman edan asal Jawa Timur dalam
sebuah kesempatan pernah mengatakan bahwa jika pada zaman Musa telah ditemukan
angka 0, maka Tuhan bukan Maha Esa tapi Maha Kosong, lebih tepatnya lagi dia
mengatakan bahwa Tuhan itu Maha Suwung. Suwung adalah zero but not empty. Sementara itu, Lao Tze menuliskan
Tiga puluh
jari-jari bersatu dalam satu bundaran; tetapi adalah pada ruang kosong untuk
poros, pemakaian roda bergantung. Tanah liat dibentuk menjadi wadah, tetapi
pada ruang kosongnya lah kegunaannya bergantung. Pintu dan jendela dipotong
untuk membentuk sebuah ruangan; tetapi pada ruangan kosonglah kegunaannya
bergantung. Maka dari itu, yang memiliki keberadaan berguna sebagai
penyesuaian, dan yang tidak memiliki keberadaan adalah yang benar-benar berguna.
Terdapat kesempurnaan pada kekosongan. Sebuah gelas yang terbuat
dari emas akan tetap dihargai sebagai gelas emas, ketika dituangkan arak ke
dalamnya orang tidak akan lagi menghargai gelas tersebut tetapi lebih sibuk
memperdebatkan apakah arak tersebut halal atau haram. Jika kita dihargai hanya
karena kita ahli dalam sebuah atau beberapa bidang, kita sepatutnya waspada
karena bisa jadi orang lain tidak menghargai melainkan menghargai bidang yang
kita kuasai. Dalam kehidupan kita, seringkali kita mendiskreditkan angka 0,
sebuah angka yang dianggap buruk, padahal jika kita sadar, pada saat kita
berada pada titik 0, pada saat kita kosong tersebut lah kita justru berada pada
puncak performa kita, kita berada dalam kasampurnan.
Contoh sederhana berikut pernah saya alami.
Sehari-hari saya selalu memiliki uang di dalam dompet saya,
dengan uang tersebut saya merasa aman karena jumlah uang tersebut dirasa cukup
aman jika saja terjadi kecelakaan-kecelakaan ringan pada saya. Pada suatu
ketika saya benar-benar kehabisan uang, saya cukup stress. Mau makan apa? Mau ngapain? Dalam seketika, pertanyaan-pertanyaan
tersebut langsung menyeruka ke dalam pikiran logis saya. Akan tetapi pada saat
itu juga saya mencoba untuk berpikir positif. Kalau udah biasa punya duit, sekarang ga
punya duit harusnya bersyukur dong,
ini kan momen yang langka. Demikian
pikiran liar saya muncul. Pada saat itu juga, saya justru menjadi sangat
pemberani, saya sudah bersikap nothing to
lose. Ah ya sudahlah, nikmati saja apa yang bisa dinikmati saat ini.
Demikian pikiran saya. Saya benar-benar sudah tidak mengharapkan apapun, mati
pun siap kala itu. Pada saat itu, saya merasa adrenalin saya memuncak, saya
sudah gendheng, kondisi gendheng itulah yang saya rasa membuat
saya mampu untuk menuliskan cerita ini. Kondisi dimana saya sudah tidak peduli
dengan diri saya sendiri. Saat itu pula lah saya bisa mengenal Tuhan, saya
merasakan keberadaan Tuhan sangat dekat dengan saya. Ketika saya bersujud untuk
shalat, sensasi yang saya rasakan sangat luar biasa. Tuhan sangat baik kepada
saya, atas kuasa-Nya siang itu saya akhirnya bisa makan karena tetangga saya
ulang tahun dan memberikan nasi kotak sebagai perayaan ulang tahun.
Alhamdulillah. Tidak hanya sampai disitu, entah kenapa ayah saya pun datang dan
meninggalkan sejumlah uang kepada saya walaupun dia tahu bahwa jatah uang
bulanan saya sudah diberikan. Subhanallah. Dalam kekosongan, terdapat
kesempurnaan. Mungkin karena hal ini, Yusuf Mansur seringkali menantang para
jamaah untuk mengosongkan isi dompetnya untuk disedekahkan. Dalam kekosongan
itu, Tuhan akan mengisinya dengan kebaikan selama kita siap menerimanya. Dalam
kekosongan itu, jika kita sadar, kita sedang berada sangat dekat dengan Sang
Maha Pemberi yang akan mencukupkan segala sesuatu bagi kita. Jika pembaca
memiliki waktu luang, pembaca dapat membaca buku Autobiography of A Yogi karya
Paramhansa Yogananda. Dalam buku tersebut, penulis mengisahkan kisah hidupnya
ketika bepergian ke luar kota dengan uang saku yang sangat kurang dan tiket
kereta untuk sekali keberangkatan saja dan keyakinannya pada Tuhan lah yang
membawanya pulang dengan selamat bahkan membawa beberapa uang.
Mungkin cukup sekian tulisan yang merupakan buah pemikiran
saya. Semoga kita selalu memiliki semangat nothing
to lose dan semoga kita selalu membersihkan diri agar selalu berada dalam
kekosongan sehingga Tuhan akan mengisi kekososngan tersebut dengan kebaikan.
Demikian tulisan ini saya buat, semoga bermanfaat.
No comments:
Post a Comment